Welcome to Kaporoo.com | About Us | Contact | Register | Sign In

Sunday, January 13, 2013

Danau Maninjau

Danau Maninjau berada di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat adalah tipe danau tektonik yang berada pada ketinggian 461,5 meter di atas permukaan laut. Dengan luas sekitar 96 km2, keberadaan danau ini telah banyak memberikan kontribusi sebagai sumber penggerak perekonomian masyarakat setempat. Panorama yang mempesona, menjadikannya sebagai salah satu andalan devisa di sektor pariwisata.

Dengan kedalaman danau hingga mencapai 165 meter, memungkinkan dibagunnya PLTA di salah satu bagian danau, tepatnya di Nagari Jorong Muko-Muko. PLTA Maninjau telah memberikan pasokaan sumber energi listrik berkapasitas 68 MW hingga ke propinsi tetangganya, Jambi dan Riau.

Jika kita menuju Danau Maninjau dari Bukittinggi, maka jarak tempuhnya sekitar 65 km. Pesona alam di sepanjang jalan menuju lokasi wisata ini bukan main indahnya. Wisatawan akan melewati tikungan tajam sebanyak 44 kali, melalui Puncak Lawang dengan panorama sangat indah. Tikungan ini menjadi objek wisata yang dikenal dengan Kelok 44.

Untuk dapat menikmati keindahan Danau Maninjau dari sisi lain, kita dapat berhenti sejenak di objek wisata Ambun Pagi dan Puncak Lawang. Dari sini pesona dan keindahan Danau Maninjau kian mengental.

Sebagaimana danau-danau yang ada di Indonesia, asal muasal nama Danau Maninjau pun tak lepas dari legenda. Masyarakat setempat mengenalnya dengan kisah Bujang Sembilan. Menurut cerita, Danau Maninjau berasal dari letusan gunung berapi. Letusan tersebut terjadi atas doa sepasang kekasih yang difitnah telah melakukan hal-hal tak pantas yang membuat masyarakat di sekitar gunung marah, lalu mengarak mereka dan menceburkannya ke kawah.

Sebelum diterjunkan ke kawah, pasangan ini diberi kesempatan berbicara. Namun yang keluar dari mulut mereka adalah doa, “Ya Tuhan! Kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, leburkanlah tubuh kami dalam kawah yang panas ini. Tapi jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuklah Bujang Sembilan menjadi ikan!”

Karena sepasang kekasih ini memang tak bersalah, maka sesaat setelah doa terucap, terdengarlah gemuruh dan getaran dahsyat dari letusan gunung. Kawahnya yang luas ini pun akhirnya membentuk danau. Danau inilah yang sekarang dikenal dengan nama Danau Maninjau.

Ikan-ikan yang hidup di Danau Maninjau ini menurut legenda adalah jelmaan Bujang Sembilan, yaitu 9 bersaudara yang salah satunya telah melakukan fitnah karena dendam. Nama-nama Bujang Sembilan itu pun kemudian diabadikan menjadi nama-nama nagari di sekitar danau.

Dalam suatu kunjungan ke Sumatera Barat, Presiden RI Soekarno pernah mengunjungi Danau Maninjau. Karena kagum akan keindahan Danau Maninjau, Presiden Soekarno menulis pantun yang berbunyi; "Jika makan arai pinang, makanlah dengan sirih yang hijau. Jangan datang ke Ranah Minang jika tak mampir ke Danau Maninjau."

Untuk mencapai Danau Maninjau dapat ditempuh dari dua arah. Dari barat, perjalanan dimulai dari Padang melalui Pariaman menuju Lubuk Basung. Perjalanan dengan mobil ini dapat ditempuh dalam waktu tiga jam.

Sementara dari timur, perjalanan dimulai dari Padang menuju Bukittinggi dan terus ke Padang Luar untuk selanjutnya menuju Matur atau Puncak Lawang dan terus ke Maninjau. Perjalanan dari Padang ke Maninjau melewati Kelok 44 ini dapat ditempuh dalam waktu tiga setengah jam.




Read More »
10:32 AM | 0 komentar

Tradisi Pernikahan Minangkabau

Tradisi perhelatan pernikahan menurut adat Minangkabau lazimnya melalui sejumlah prosesi yang hingga kini masih dijunjung tinggi untuk dilaksanakan serta melibatkan keluarga besar kedua calon mempelai, terutama dari keluarga pihak wanita. Berikut beberapa tradisi dan upacara adat yang biasa dilakukan baik sebelum maupun setelah acara pernikahan:

Maresek
Maresek merupakan penjajakan pertama sebagai permulaan dari rangkaian tatacara pelaksanaan pernikahan. Sesuai dengan sistem kekerabatan di Minangkabau, pihak keluarga wanita mendatangi pihak keluarga pria. Lazimnya pihak keluarga yang datang membawa buah tangan berupa kue atau buah-buahan sesuai dengan sopan santun budaya timur. Pada awalnya beberapa wanita yang berpengalaman diutus untuk mencari tahu apakah pemuda yang dituju berminat untuk menikah dan cocok dengan si gadis. Prosesi bisa berlangsung beberapa kali perundingan sampai tercapai sebuah kesepakatan dari kedua belah pihak keluarga.

Meminang dan Bertukar Tanda
Keluarga calon mempelai wanita mendatangi keluarga calon mempelai pria untuk meminang. Bila tunangan diterima, berlanjut dengan bertukar tanda sebagai simbol pengikat perjanjian dan tidak dapat diputuskan secara sepihak. Acara melibatkan orang tua atau ninik mamak dan para sesepuh dari kedua belah pihak.

Rombongan keluarga calon mempelai wanita datang dengan membawa sirih pinang lengkap disusun dalam carano atau kampla  yaitu tas yang terbuat dari daun pandan. Menyuguhkan sirih diawal pertemuan dengan harapan apabila ada kekurangan atau kejanggalan tidak akan menjadi gunjingan. Sebaliknya, hal-hal yang manis dalam pertemuan akan melekat dan diingat selamanya. Selain itu juga disertakan oleh-oleh kue-kue dan buah-buahan. Benda-benda yang dipertukarkan biasanya benda-benda pusaka seperti keris, kain adat atau benda lain yang bernilai sejarah bagi keluarga. Benda-benda ini akan dikembalikan dalam suatu acara resmi setelah berlangsung akad nikah.

Tata caranya diawali dengan juru bicara keluarga wanita yang menyuguhkan sirih lengkap untuk dicicipi oleh keluarga pihak laki-laki sebagai tanda persembahan. Juru bicara menyampaikan lamaran resmi. Jika diterima berlanjut dengan bertukar tanda ikatan masing-masing. Selanjutnya berembug soal tata cara penjemputan calon mempelai pria.

Mahanta / Minta Izin
Calon mempelai pria mengabarkan dan mohon doa restu rencana pernikahan kepada mamak-mamaknya, saudara-saudara ayahnya, kakak-kakaknya yang telah berkeluarga dan para sesepuh yang dihormati. Hal yang sama dilakukan oleh calon mempelai wanita, diwakili oleh kerabat wanita yang sudah berkeluarga dengan cara mengantar sirih.

Bagi calon mempelai pria membawa kantong yang berisi daun nipah dan tembakau (namun saat ini sedah digantikan dengan rokok). Sementara bagi keluarga calon mempelai wanita ritual ini menyertakan sirih lengkap.

Ritual ini ditujukan untuk memberitahukan dan mohon doa rencana pernikahannya. Biasanya keluarga yang didatangi akan memberikan bantuan untuk ikut memikul beban dan biaya pernikahan sesuai kemampuan.

Babako - Babaki
Pihak keluarga dari ayah calon mempelai wanita (disebut bako) ingin memperlihatkan kasih sayangnya dengan ikut memikul biaya sesuai kemampuan. Acara berlangsung beberapa hari sebelum acara akad nikah.

Perlengkapan yang disertakan biasanya berupa sirih lengkap (sebagai kepala adat), nasi kuning singgang ayam (makanan adat), antaran barang yang diperlukan calon mempelai wanita seperti seperangkat busana, perhiasan emas, lauk pauk baik yang sudah dimasak maupun yang masih mentah, kue-kue dan sebagainya.

Sesuai tradisi, calon mempelai wanita dijemput untuk dibawa ke rumah keluarga ayahnya. Kemudian para tetua memberi nasihat. Keesokan harinya, calon mempelai wanita diarak kembali ke rumahnya diiringi keluarga pihak ayah dengan membawa berbagai macam barang bantuan tadi.

Malam Bainai
Bainai  berarti melekatkan tumbukan halus daun pacar merah atau daun inai ke kuku-kuku calon pengantin wanita. Tumbukan ini akan meninggalkan bekas warna merah cemerlang pada kuku. Lazimnya berlangsung malam hari sebelum akad nikah. Tradisi ini sebagai ungkapan kasih sayang dan doa restu dari para sesepuh keluarga mempelai wanita.

Busana khusus untuk upacara bainai yakni baju tokoh dan bersunting rendah. Perlengkapan lain yang digunakan antara lain air yang berisi keharuman tujuh kembang, daun iani tumbuk, payung kuning, kain jajakan kuning, kain simpai dan kursi untuk calon mempelai.

Calon mempelai wanita dengan baju tokoh  dan bersunting rendah dibawa keluar dari kamar diapit kawan sebayanya. Acara mandi-mandi secara simbolik dengan memercikkan air harum tujuh kembang oleh para sesepuh dan kedua orang tua. Selanjutnya, kuku-kuku calon mempelai wanita diberi inai.

Manjapuik Marapulai
Ini adalah acara adat yang paling penting dalam seluruh rangkaian acara perkimpoian menurut adat Minangkabau. Calon pengantin pria dijemput dan dibawa ke rumah calon pengantin wanita untuk melangsungkan akad nikah. Prosesi ini juga dibarengi pemberian gelar pusaka kepada calon mempelai pria sebagai tanda sudah dewasa.

Lazimnya pihak keluarga calon pengantin wanita harus membawa sirih lengkap dalam carano  yang menandakan datangnya secara beradat, pakaian pengantin pria lengkap, nasi kuning singgang ayam, lauk pauk, kue-kue serta buah-buahan. Untuk daerah pesisir Sumatera barat biasanya juga menyertakan payung kuning, tombak, pedang serta uang jemputan atau uang hilang.

Rombongan utusan dari keluarga calon mempelai wanita menjemput calon mempelai pria sambil membawa perlengkapan. Setelah prosesi sambah mayambah dan mengutarakan maksud kedatangan, barang-barang diserahkan. Calon pengantin pria beserta rombongan diarak menuju kediaman calon mempelai wanita.

Penyambutan di Rumah Anak Daro
Tradisi menyambut kedatangan calon mempelai pria di rumah calon mempelai wanita lazimnya merupakan momen meriah dan besar. Diiringi bunyi musik tradisional khas Minang yakni talempong dan gandang tabuk, serta barisan Gelombang Adat timbal balik yang terdiri dari pemuda-pemuda berpakaian silat, serta disambut para dara berpakaian adat yang menyuguhkan sirih.

Sirih dalam carano adat lengkap, payung kuning keemasan, beras kuning, kain jajakan putih merupakan perlengkapan yang biasanya digunakan.

Keluarga mempelai wanita memayungi calon mempelai pria disambut dengan tari Gelombang Adat timbal balik. Berikutnya, barisan dara menyambut rombongan dengan persembahan sirih lengkap. Para sesepuh wanita menaburi calon pengantin pria dengan beras kuning. Sebelum memasuki pintu rumah, kaki calon mempelai pria diperciki air sebagai lambang mensucikan, lalu berjalan menapaki kain putih menuju ke tempat berlangsungnya akad.

Tradisi seusai akad nikah
Ada lima acara adat Minang yang lazim dilaksanakan seusai akad nikah. Yaitu memulang tanda, mengumumkan gelar pengantin pria, mengadu kening, mengeruk nasi kuning dan bermain coki.

Memulangkan tanda
Setelah resmi sebagai suami istri maka tanda yang diberikan sebagai ikatan janji sewaktu lamaran dikembalikan oleh kedua belah pihak.

Mengumumnkan gelar pengantin pria
Gelar sebagai tanda kehormatan dan kedewasaan yang disandang mempelai pria lazimnya diumumkan langsung oleh ''ninik mamak'' kaumnya.

Mengadu Kening
Pasangan mempelai dipimpin oleh para sesepuh wanita menyentuhkan kening mereka satu sama lain. Kedua mempelai didudukkan saling berhadapan dan diantara wajah keduanya dipisahkan dengan sebuah kipas, lalu kipas diturunkan secara perlahan. Setelah itu kening pengantin akan saling bersentuhan.

Mangaruak Nasi Kuning
Prosesi ini mengisyaratkan hubungan kerjasama antara suami isri harus selalu saling menahan diri dan melengkapi. Ritual diawali dengan kedua pengantin berebut mengambil daging ayam yang tersembunyi di dalam nasi kuning.

Bermain Coki
Coki adalah permaian tradisional Ranah Minang. Yakni semacam permainan catur yang dilakukan oleh dua orang, papan permainan menyerupai halma. Permainan ini bermakna agar kedua mempelai bisa saling meluluhkan kekakuan dan egonya masing-masing agar tercipta kemesraan.

Read More »
9:39 AM | 0 komentar

Tuesday, December 25, 2012

Batusangkar

Banyak yang menyebutkan Batusangkar berasal dari kata batu dan sangkar. Namun tidak diketemukan pasti dimana batu yang berada dalam sangkar ataupun batu berbentuk sangkar. Yang pasti, daerah ini sebelumnya dikenal sebagai Fort Van der Capellen selama masa kolonial Belanda, yaitu sebuah benteng pertahanan Belanda yang didirikan sewaktu Perang Padri.

Benteng ini dibangun antara 1822 dan 1826 dan dinamai menurut nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda, G.A.G.Ph. van der Capellen. Kawasan ini secara resmi berganti nama menjadi Batusangkar pada tahun 1949, menggantikan nama kolonialnya.

Dan seiring dengan perkembangan zaman dan adanya keinginan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Datar untuk memindahkan Pusat Pemerintahan dari Batusangkar ke Pagaruyung, maka pada tanggal 26 April 2001 Markas Komando (Mako) Polres Tanah Datar yang baru di resmikan di Pagaruyung. Dan selanjutnya kawasan ini akan direhabilitasi kembali menjadi Fort Van der Capellen sebagai tempat objek wisata sejarah. Sekarang, kawasan ini masuk menjadi bahagian dari kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar.

Batusangkar memiliki fasilitas yang cukup lengkap mulai dari sekolah dasar yang terdiri dari puluhan yang tersebar di seputaran kota, SMP ada SMP 1 batusangkar, SMP 2 batusangkar dan SMP 5 batusangkar, kemudian SMA juga terdapat negeri dan swasta, mulai dari SMA 1 batusangkar, SMA 2 batusangkar, dan SMA 3 batusangkar, swasta terdiri dari SMK progresif dan SMA Muhammadiyah, fasilitas kesehatan mulai dari RSUD hanafiah batusangkar dan beberapa puskesmas di tiap kabupaten, dan pasar kota batusangkar sebagai tempat pergerakan ekonomi di kota ini
pasar Batusangkar

Kota Batusangkar merupakan ibukota Kabupaten Tanah Datar akan dinaikkan menjadi kotamadya.

Berkunjung ke Batusangkar, erasa diajak untuk memasuki kehidupan masa lalu kerajaan Minangkabau. Karena di kota ini akan dapat menyaksikan objek-objek wisata sejarah kerajaan Pagaruyung atau Minangkabau.

Batusangkar dahulunya adalah pusat lokasi kerajaan Minangkabau yang dirajai oleh Raja Adityawarman. Di tempat ini, banyak sekali prasasti batu yang masih tersisa yang mengisyaratkan catatan pertama tentang kerajaan ini di Sumatera Barat.

Di Batusangkar ini, dapat mengunjungi beberapa buah objek wisata seperti Istana Silinduang Bulan, Prasasti Batu Basurek, Batu Batikam, Kuburan Rajo, Balairung Sari, Kuburan Panjang Tantejo Gurhano, Panorama Tabek Patah,     Batu Angkek-angkek

Di sekitar Batusangkar juga terdapat objek wisata seperti  Pantai Tanjung Mutiara di Batipuh, Panorama Bukit Payo Rapuih, Danau Singkarak dan Ngalau Lintau Buo.




Read More »
10:35 PM | 0 komentar

Tuesday, January 18, 2011

Rumah Gadang


Ciri khas Rumah Gadang ialah atapnya "Bergonjong" seperti tanduk kerbau. Rumah gadang tersebut dahulu beratap ijuk, dan melengkung ke kanan, kiri, ada yang dua atap dan empat atapnya dan lengkung kedepan bagaikan mamak yang bertiga.

Rumah gadang pertama dibangun pada zaman Pemerintahan kerajaan ke II, yaitu dizaman pemerintahan Datuak Parapatiah nan Sabatang dan Datuak Ketemanggungan. Menurut setengah pendapat ahli tambo kira-kira pada abad ke III Masehi.

Pusat pemerintahan waktu itu adalah di Lagundi nan Baselo karena masih terdapat bekas-bekasnya disana seperti : sawah gadang satampang benih, batu laweh sajamba makan, pincuran puti, titian barayun gelanggang kuwau, lurah situkal benang, tungku tiga sejarangan, dan lain-lain.

Pemerintahan sudah berkelarasan yang dua Koto Piliang dan Bodi Chaniago. Pemerintahan dibantu oleh Dewan Mentri yang dinamakan "Orang Yang Tujuh Langgam". Adat berjenjang naik bertangga turun sudah dilaksanakan pada masa itu. Yang mengetahui sebuah rumah ialah tungganai diatas itu penhulu andika dan diatasnya lagi penghulu suku dan diatas sekali penghulu pucuk.

Terlepas dari semua itu, pada abad ke II Masehi itulah dibangun "Rumah Gadang" lengkap dengan Rangkiang atau Lumbung. Dan apakah atapnya sudah bergonjong, memang agak sukar juga untuk memastikannya. Sebab rumah gadang dengan rumah bergonjong tentu berbeda.

Dimuka rumah gadang didirikan pula tiga buah rangkiang yang masing- masing bernama :
1. Ditengah-tengah Sitinjau Laut
2. Disebelah kiri Sidagang Lapar
3. Disebelah kanan Sibayau bayau

Kegunaan setiap lumbung itu adalah :
Sibayau-bayau; fungsinya sebagai Sosial, untuk penanti dagang lalu, menyongsong orang baru datang, menolong tamu dari jauh.
Sitinjau Laut; untuk menenggang koroang dan kampung, melapangkan orang kesempitan.
Sidagang Lapa atau Sianggak Lerok; untuk dimakan anak kamanakan, persiapan rumah tangga.

Ruangan Dalam Rumah Gadang

Dalam cerita klasik Minang disebutkan :
Rumah gadang sambilan ruang, sapuluah jo pandapuaran, sabaleh jo anjuang tinggi, panjang nan tidak panjang bana, salajang kudo balari, sakuat kuaran tabang, rangkiang tigo sajajaran nan satu sibayau-bayau, nan satu sitinjau laut nan sabuah sianggak lorek, dan seterusnya. Inilah gambaran rumah gadang Puti Gondoriah di Tiku- Agam.

Sudah jelas bahwa panjang rumah gadang seperti yang dilukiskan itu hanya kiasan saja. Memang ada rumah gadang yang panjangnya lebih dari seratus meter, terbagi atas puluhan petak dan setiap petak dihuni oleh satu keluarga. Rumah gadang seperti ini terdapat di Sulit air, dan rumah larik di Sungai Penuh- Kerinci, hanya tipenya berbeda.

Bentuk atap rumah gadang dalam berbagai daerah di Minangkabau agak berbeda, ada yang dambin, bagai elang akan terbang, menancap kelangit, dan sebagainya. Tetapi bagian dalam hampir sama, ada yang beranjung, dan ada yang tidak. Malahan di Koto nan ampek, ada rumah gadang yang memakai tingkap peranginan dan kabarnya itulah rumah raja di zaman dahulu. Mungkin model rumah gadang inilah yang dibawa keturunan Minangkabau di Negeri Sembilan, yaitu Istana Seri Menanti.
Bahagian yang sebelah keujung dinamai "Ujung" dan bila ditinggikan dinamakan "Anjung". Dua petak sebelah kehalaman sama tinggi saja lantainya dan bahagian yang ditengah ruangan yang memanjang dari ujung kepangkal dinamakan "Labuah kudo". Dibagian dinding sebelah belakang yang ditinggikan terdapat beberapa buah bilik yang berderet dari ujung sampai kepangkal. Bagian yang ditinggikan dinamai "bandua".

Apabila dalam rumah gadang ada beberapa orang gadis, yang termuda akan mendapat tempat sebelah keujung, apabila seorang gadis telah menikah ia akan ditempatkan di bilik utama atau bilik paling ujung, bila gadis yang kedua menikah dia akan menempati bilik utama dan yang kawin pertama tadi akan pindah kebilik berikutnya, jika ada lagi gadis yang menikah maka yang pindah pertama akan pindah lagi kebilik selanjutnya begitulah seterusnya. Dan orang tua menempati bilik paling pangkal, dan kadang kala orang tua harus membuat tempat tidur atau bilik tambahan dibahagian dapur.

Besar bilik biasanya cukup untuk sebuah ranjang dan berhias. Bilik disediakan untuk anak perempuan sedangkan anak laki-laki atau pemuda tidak tersedia bilik dirumah gadang dan biasanya mereka tidur disurau sambil memperdalam ilmu agama dan belajar bela diri atau silat. Kembali kepersoalan rumah gadang, dan pada umumnya sebuah rumah gadang penuh dengan ukiran dan setiap ukiran itu ada namanya, seperti Pucuk rebung, Akar Cina, naga, dan lain-lain.

Membangun Rumah Gadang

Membangun rumah gadang di Minangkabau pada zaman dahulu dikerjakan secara gotong royong sebab mereka menyadari benar petuah adat "Bulet aia dipambuluh, bulek kato dek mufakat" - "Tuah sakato, cilako basilang".
Jika seorang mamak akan membangun rumah maka dibawalah mufakat niniak mamak, penghulu dan sanak famili dan yang lainnya. Pekerjaan pertama ialah kehutan dalam ulayat penghulu, atau ulayat kampung untuk mencari tonggak, atau tiang. Tonggak dan kayu untuk rumah tersebut terlebih dahulu direndam. Setelah tiba masanya mengeluarkan rendaman pekayuan itu dan mulailah pekerjaan memahat, setelah kepala tukang membuat tanda pd tiang tersebut. Dalam memilih tonggak, ada pula tilikan dan kepercayaan sebab ada kayu-kayu itu yang tak baik dipergunakan.

Pembuatan sebuah rumah gadang bisa mencapai beberapa tahun kerna bahan-bahan untuk rumah tersebut harus dicari dan diproses sedemikian rupa. Dan ketika rumah akan ditegakkan keluarga dekat akan membawa beras dan kain yang dinamakan "tukut tonggak" dan ada pula beberapa rangkaian upacara dalam membangun rumah gadang.

Rumah gadang dibuat untuk perempuan. Bila rumah selesai dibangun, yang menempati bukanlah mamak yang sudah berjerih payah mendirikannya, melainkan saudaranya yang perempuan dan kemanakan perempuan. Tetapi yang berkuasa dirumah gadang adalah penghulu kaum, tungganai atau penghulu andika. Sebab tugas seorang mamak dalam rumah sebagai kata adat juga: Hanyut dipintas, hilang dicari, Tarapung dikait, terbenam diselami, Usul dipermainkan, cabuh dibuang, Siang dilihat-lihat, malam dengar-dengarkan, Kamanakan disambah batin, mamak disambah lahir, Lupa diingatkan, tertidur dibangunkan, Senteng akan dibilai, kurang akan ditambah, Panjang dikerat, singkat diulas, Jauh dikenangkan, dekat diulangi.

Karena fungsi itulah rumah gadang di Minangkabau tidak bisa dijual atau digadaikan. Maka kini wanita tertua dalam rumah gadang itulah yang berkuasa dalam rumah gadang. Ia mempunyai sebuah peti penyimpanan yang istimewa namanya "amban purek", begitu juga mengendalikan padi, ternak dan keuangan dirumah gadang tersebut, dialah yang menyelenggarakannya.

Read More »
8:51 PM | 0 komentar

Friday, January 7, 2011

Bukittinggi

Bukittinggi  dalam kehidupan ketatanegaraan semenjak zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang serta zaman kemerdekaan dengan berbagai variasinya tetap merupakan pusat Pemerintahan Sumatera bahagian Tengah maupun Sumatera secara keseluruhan.

Bahkan "Bukittinggi" pernah berperan sebagai Pusat Pemerintahan Republik Indonesia setelah Yogyajarta diduduki Belanda dari bulan Desember 1948 sampai dengan bulan Juni 1949.

Semasa pemerintahan Belanda dahulu, Bukittinggi oleh Belanda selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan, dari apa yang dinamakan Gemetelyk Resort berdasarkan Stbl tahun 1828. Belanda telah mendirikan kubu pertahanannya tahun 1825, yang sampai sekarang kubu pertahanan tersebut masih dikenal dengan Benteng " Fort De Kock ". Kota ini telah digunakan juga oleh Belanda sebagai tempat peristirahatan opsir-opsir yang berada di wilayah jajahannya di timur ini.

Oleh pemerintah Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian Pemerintah militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand karena disini berkedudukan komandan Milioter ke 25. Pada masa ini Bukittinggi berganti nama dari Taddsgemente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho yang daerahnya diperluas dengan memasukkan nagari-nagari Sianok, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu taba dan Bukit Batabuah yang sekarang kesemuanya itu kini berada dalam daerah Kabupaten Agam.

Di Kota ini pula Pemerintah bala tebtara Jepang mendirikan pemancar Radio terbesar untuk pulau Sumatera dalam rangka mengibarkan semangat rakyat untuk menunjang kepentingan perang Asia Timur Raya versi Jepang.

Pada zaman perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia Bukitinggi berperan sebagai kota perjuangan. Dari bulan Desember 1948 sampai dengan bulan Juni 1949 ditunjuk sebagai Ibu Kota Pemerintahan darurat Republik Indonesia ( PDRI ), setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

Selanjutnya Bukittinggi pernah menjadi Ibukota Propinsi Sumatera dengan Gubernurnya Mr. Tengku Muhammad Hasan. Kemudian dalam peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang No. 4 tahun 1959 Bukittinggi ditetapkan sebagai Ibu Kota Sumatera Tengah yang meliputi keresidenan-keresidenan Sumatera Barat, Jambi dan Riau yang sekarang masing-masing Keresidenan itu telah menjadi Propinsi-propinsi sendiri.

Setelah keresidenan Sumatera Barat dikembangkan menjadi Propinsi Sumatera Barat, maka Bukittinggi ditunjuk sebagai Ibu Kota Propinsinya. Semenjak tahun 1958 secara defacto Ibukota Propinsi telah pindah ke Padang namun secara deyuire barulah tahun 1978 Bukittinggi tidak lagi menjadi Ibukota Propinsi Sumatera Barat. Dengan keluarnya Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1979 yang memindahkan Ibukota Propinsi Sumatera Barat ke Padang.

Sekarang ini Bukittinggi berstatus sebagai kota madya Daerah Tingkat II sesuai dengan undang-undang No. 5 tahun 1974 tentang Pokok Pemerintah di Daerah yang telah disempurnakan dengan UU NO. 22/99 menjadi Kota Bukittinggi.

22 Desember 1784 ditetapkan sebagai Hari jadi kota Bukittinggi.

Kota Bukittinggi saat ini terdiri atas 3 kecamatan dengan 24 kelurahan. Bukittinggi akan mengadakan perubahan batas wilayah, dengan memasukkan sebagian wilayah Kabupaten Agam ke dalam wilayah kota Bukittinggi, sehingga nantinya kota Bukittinggi mempunyai luas 145,299 km2 yang terdiri dari 7 kecamatan dan 58 kelurahan/desa dengan jumlah penduduk 175.452 jiwa.

Sesuai dengan prosedur peraturan perundang-undangan realisasinya menunggu turunnya Peraturan Pemerintah tentang perubahan  batas wilayah tersebut.

KECAMATAN MANDIANGIN KOTO SELAYAN

Luas wilayah 12.185 Km2 (48,28%, mempunyai penduduk sebanyak 32.157 orang dengan kepadatan rata-rata 930 jiwa per-km2. kecamatan ini terdiri dari 9 Kelurahan yaitu :

    * Kelurahan Campago Ipuh
    * Kelurahan Campago Guguk Bulek
    * Kelurahan Kubu Gulai Bancah
    * Kelurahan Puhun Tembok
    * Kelurahan Puhun Pintu Kabun
    * Kelurahan Manggis
    * Kelurahan Pulai Anak Air
    * Kelurahan Garegeh
    * Kelurahan Koto Salayan

KECAMATAN GUGUK PANJANG

Luas wilayah 6,931 Km2 (27,07%, mempunyai penduduk sebanyak 38.510 orang dengan kepadatan rata-rata 5.638 jiwa per-km2. kecamatan ini terdiri dari 7 Kelurahan yaitu :

    * Kelurahan Kayu Kubu
    * Kelurahan Pakan Kurai
    * Kelurahan Benteng Pasar Atas
    * Kelurahan Bukit Cangang Kayu Ramang
    * Kelurahan Aur Tajungkang Tengah Sawah
    * Kelurahan Tarok Dipo
    * Kelurahan Bukit Apit Puhun

KECAMATAN AUR BIRUGO TIGO BALEH

Luas wilayah 9,252 Km2 (24,778%, mempunyai penduduk sebanyak 20.733 orang dengan kepadatan rata-rata 3.316 jiwa per-km2. kecamatan ini terdiri dari 9 Kelurahan yaitu :
    * Kelurahan Belakang Balok
    * Kelurahan Birugo
    * Kelurahan Aur Kuning
    * Kelurahan Sapiran
    * Kelurahan Kubu Tanjung
    * Kelurahan Pakan Labuah
    * Kelurahan Ladang Cakiah
    * Kelurahan Parit Antang

Kota Bukittingi berbatasan dengan kecamatan dalam wilayah Kabupaten Agam, yaitu :

    * Sebelah Utara dengan Kecamatan Tilatang Agam
    * Sebelah Selatan dengan Banuhampu Sungai Puar
    * Sebelah Barat dengan IV Koto
    * Sebelah Timur dengan IV Angkat Candung

Read More »
8:37 PM | 0 komentar