Welcome to Kaporoo.com | About Us | Contact | Register | Sign In
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts

Saturday, August 10, 2013

Istana Pagaruyung

Istana Pagaruyung adalah salah satu destinasi wisata di provinsi Sumatera Barat yang terletak di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar. Istana ini sendiri hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari kota Batusangkar, dan berjarak 105 kilometer dari Kota Padang.

Bangunan Istana Pagaruyung berupa Rumah Gadang, yaitu rumah adat MinangKabau dengan ukuran yang sangat besar, dan atap berbentuk tanduk kerbau yang melengkung dan meruncing ke atas yang  biasa disebut gonjong.

Istana Pagaruyung terdiri dari 11 gonjong, 72 tonggak dan 3 lantai. Baik eksterior maupun interior dari istana ini terdiri dari berbagai macam ukiran yang setiap bentuk maupun warnanya memiliki makna dan arti tersendiri yang terdiri dari berbagai macam falsafah budaya MinangKabau. Di dalam ruangan – ruangan Istana Pagaruyung dipamerkan berbagai macam benda bersejarah, seperti keramik – keramik yang merupakan peninggalan kerajaan Pagaruyung di masa lalu dan berbagai macam kerajinan khas Minangkabau dengan ciri khasnya masing – masing.

Salah satu yang unik dari bangunan Istana Pagaruyung adalah tonggaknya. Semua tonggak di bangunan Istana Pagaruyung dibuat miring, yang pada dasarnya tidak sesuai dengan teori arsitektur yang ada. Akan tetapi, tonggak – tonggak miring ini tidak justru membuat bangunan Istana menjadi tidak kokoh. Di halaman Istana Pagaruyung yang luas, kita juga bisa melihat bangunan Rangkiang yang merupakan tempat penyimpanan hasil panen. Begitu juga dengan keberadaan Surau tempat ibadah dan Tabuah yang merupakan sejenis gendang yang biasanya dipergunakan untuk mengumpulkan warga.

Istana Pagaruyung sendiri sebenarnya adalah replika dari Istana Rajo Alam Pagaruyuang yang dibakar oleh Belanda pada tahun 1804 dan dibangun kembali pada tahun 1976. Pada tanggal 27 Februari 2007 Istana Pagaruyung kembali terbakar akibat sambaran petir.

Dalam perjalanan ke Istana Pagaruyung, ada beberapa objek wisata peninggalan sejarah yang dilewati, seperti Batu Batikam dan Batu Basurek. Batu Batikam merupakan batu berlubang hasil tikaman keris Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Secara nalar memang tidak mungkin sebuah batu bisa berlobang dengan menggunakan keris. Akan tetapi lubang di tengah batu ini telah mampu menunjukkan betapa saktinya Datuak Partatiah Nan Sabatang.

Sedangkan Batu Basurek merupakan prasasti peninggalan kerajaan Pagaruyung masa pemerintahan Raja Adityawarman. Batu Basurek ini juga terdapat di daerah lain, yaitu di Kubu Rajo Nagari Lima Kecamatan Lima Kaum serta di daerah Koto Tangah Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas. Diperkirakan prasasti ini ditulis pada tahun 1300-an, menggunakan huruf Jawa Kuno dalam Bahasa Sansekerta. Isinya bercerita tentang Raja Adityawarman sebagai penguasa negeri emas yang murah hati dan penuh belas kasih.



Read More »
11:06 PM | 0 komentar

Saturday, January 1, 2011

Jam Gadang

Jam Gadang adalah landmark kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota).

Simbol khas Bukittinggi dan Sumatera Barat ini  memiliki cerita dan keunikan dalam perjalanan sejarahnya. Hal tersebut dapat  ditelusuri dari ornamen pada Jam Gadang. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan.

Pada masa penjajahan Jepang ,  ornamen jam berubah menjadi klenteng. Sedangkan pada masa setelah kemerdekaan,  bentuknya ornamennya kembali berubah dengan bentuk gonjong rumah adat Minangkabau .

Angka-angka pada jam tersebut juga memiliki  keunikan. Angka empat pada angka Romawi biasanya tertulis dengan IV, namun di  Jam Gadang tertera dengan IIII.

Dari menara Jam Gadang, para wisatawan  bisa melihat panorama kota Bukittinggi yang  terdiri dari bukit, lembah dan bangunan berjejer di tengah kota yang sayang untuk dilewatkan.

Saat dibangun biaya seluruhnya mencapai 3.000 Gulden dengan penyesuaian dan renovasi dari waktu ke waktu. Saat jaman Belanda dan pertama kali dibangun atapnya berbentuk bulat dan diatasnya berdiri patung ayam jantan.

Sedangkan saat masa jepang berubah lagi dengan berbentuk klenteng dan ketika Indonesia Merdeka berubah menjadi rumah adat Minangkabau.

Setiap hari ratusan warga berusaha di lokasi Jam Gadang. Ada yang menjadi fotografer amatiran, ada yang berjualan balon, bahkan mencari muatan oto (kendaraan umum) untuk dibawa ke lokasi wisata lainnya di Bukittinggi.

Untuk mencapai lokasi ini, para wisatawan dapat menggunakan jalur darat. Dari kota Padang ke Bukittinggi, perjalanan dapat ditempuh selama lebih kurang 2 jam perjalanan menggunakan angkutan umum. Setelah sampai di kota Bukittinggi, perjalanan bisa dilanjutkan  dengan menggunakan angkutan kota  ke lokasi Jam Gadang.

Sepintas, mungkin tidak ada keanehan pada bangunan jam setinggi 26 meter tersebut. Apalagi jika diperhatikan bentuknya, karena Jam Gadang hanya berwujud bulat dengan diameter 80 sentimeter, di topang basement
dasar seukuran 13 x 4 meter, ibarat sebuah tugu atau monumen. Oleh karena ukuran jam yang lain dari kebiasaan ini, maka sangat cocok dengan sebutan Jam Gadang yang berarti jam besar.

Bahkan tidak ada hal yang aneh ketika melihat angka Romawi di Jam Gadang. Tapi coba lebih teliti lagi pada angka Romawi keempat. Terlihat ada sesuatu yang tampaknya menyimpang dari pakem. Mestinya, menulis angka Romawi empat dengan simbol IV. Tapi di Jam Gadang malah dibuat menjadi angka satu yang berjajar empat buah (IIII). Penulisan yang diluar patron angka romawi tersebut hingga saat ini masih diliputi misteri.

Tapi uniknya, keganjilan pada penulisan angka tersebut malah membuat Jam Gadang menjadi lebih “menantang” dan menggugah tanda tanya setiap orang yang (kebetulan) mengetahuinya dan memperhatikannya. Bahkan uniknya lagi, kadang muncul pertanyaan apakah ini sebuah patron lama dan kuno atau kesalahan serta atau atau yang
lainnya. Dari beragam informasi ditengah masyarakat, angka empat aneh tersebut ada yang mengartikan sebagai penunjuk jumlah korban yang menjadi tumbal ketika pembangunan. Atau ada pula yang mengartikan, empat orang tukang pekerja bangunan pembuatan Jam Gadang meninggal setelah jam tersebut selesai. Masuk akal juga, karena jam tersebut diantaranya  dibuat dari bahan semen putih dicampur putih telur.

Jika dikaji apabila terdapat kesalahan membuat angka IV, tentu masih ada kemungkinan dari deretan daftar misteri. Tapi setidaknya hal ini tampaknya perlu dikesampingkan.
Sebagai jam hadiah dari Ratu Belanda kepada controleur (sekretaris kota), dan dibuat ahli jam negeri Paman Sam Amerika, kemungkinan kekeliruan sangat kecil. Tapi biarkan saja misteri tersebut dengan berbagai kerahasiaannya.

Namun yang patut diketahui lagi, mesin Jam Gadang diyakini juga hanya ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja yang saat ini terpasang di  Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara manual tersebut oleh pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal) diberi nama Brixlion.

Sekarang balik lagi ke angka Romawi empat, apakah pembuatan angka empat yang aneh itu disengaja oleh pembuatnya, juga tidak ada yang tahu. Tapi yang juga patut dicatat, bahwa Jam Gadang ini peletakan batu pertamanya dilakukan oleh seorang anak berusia enam tahun, putra
pertama Rook Maker yang menjabat controleur Belanda di Bukittinggi ketika itu.

Ketika masih dalam masa penjajahan Belanda, bagian puncak Jam Gadang terpasang dengan megahnya patung seekor ayam jantan. Namun saat Belanda kalah dan terjadi pergantian kolonialis di Indonesia kepada Jepang, bagian atas tersebut diganti dengan bentuk klenteng. Lebih jauh lagi ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan diganti gaya atap bagonjong rumah adat Minangkabau.


Read More »
12:40 PM | 0 komentar