Welcome to Kaporoo.com | About Us | Contact | Register | Sign In

Sunday, January 13, 2013

Danau Maninjau

Danau Maninjau berada di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat adalah tipe danau tektonik yang berada pada ketinggian 461,5 meter di atas permukaan laut. Dengan luas sekitar 96 km2, keberadaan danau ini telah banyak memberikan kontribusi sebagai sumber penggerak perekonomian masyarakat setempat. Panorama yang mempesona, menjadikannya sebagai salah satu andalan devisa di sektor pariwisata.

Dengan kedalaman danau hingga mencapai 165 meter, memungkinkan dibagunnya PLTA di salah satu bagian danau, tepatnya di Nagari Jorong Muko-Muko. PLTA Maninjau telah memberikan pasokaan sumber energi listrik berkapasitas 68 MW hingga ke propinsi tetangganya, Jambi dan Riau.

Jika kita menuju Danau Maninjau dari Bukittinggi, maka jarak tempuhnya sekitar 65 km. Pesona alam di sepanjang jalan menuju lokasi wisata ini bukan main indahnya. Wisatawan akan melewati tikungan tajam sebanyak 44 kali, melalui Puncak Lawang dengan panorama sangat indah. Tikungan ini menjadi objek wisata yang dikenal dengan Kelok 44.

Untuk dapat menikmati keindahan Danau Maninjau dari sisi lain, kita dapat berhenti sejenak di objek wisata Ambun Pagi dan Puncak Lawang. Dari sini pesona dan keindahan Danau Maninjau kian mengental.

Sebagaimana danau-danau yang ada di Indonesia, asal muasal nama Danau Maninjau pun tak lepas dari legenda. Masyarakat setempat mengenalnya dengan kisah Bujang Sembilan. Menurut cerita, Danau Maninjau berasal dari letusan gunung berapi. Letusan tersebut terjadi atas doa sepasang kekasih yang difitnah telah melakukan hal-hal tak pantas yang membuat masyarakat di sekitar gunung marah, lalu mengarak mereka dan menceburkannya ke kawah.

Sebelum diterjunkan ke kawah, pasangan ini diberi kesempatan berbicara. Namun yang keluar dari mulut mereka adalah doa, “Ya Tuhan! Kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, leburkanlah tubuh kami dalam kawah yang panas ini. Tapi jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuklah Bujang Sembilan menjadi ikan!”

Karena sepasang kekasih ini memang tak bersalah, maka sesaat setelah doa terucap, terdengarlah gemuruh dan getaran dahsyat dari letusan gunung. Kawahnya yang luas ini pun akhirnya membentuk danau. Danau inilah yang sekarang dikenal dengan nama Danau Maninjau.

Ikan-ikan yang hidup di Danau Maninjau ini menurut legenda adalah jelmaan Bujang Sembilan, yaitu 9 bersaudara yang salah satunya telah melakukan fitnah karena dendam. Nama-nama Bujang Sembilan itu pun kemudian diabadikan menjadi nama-nama nagari di sekitar danau.

Dalam suatu kunjungan ke Sumatera Barat, Presiden RI Soekarno pernah mengunjungi Danau Maninjau. Karena kagum akan keindahan Danau Maninjau, Presiden Soekarno menulis pantun yang berbunyi; "Jika makan arai pinang, makanlah dengan sirih yang hijau. Jangan datang ke Ranah Minang jika tak mampir ke Danau Maninjau."

Untuk mencapai Danau Maninjau dapat ditempuh dari dua arah. Dari barat, perjalanan dimulai dari Padang melalui Pariaman menuju Lubuk Basung. Perjalanan dengan mobil ini dapat ditempuh dalam waktu tiga jam.

Sementara dari timur, perjalanan dimulai dari Padang menuju Bukittinggi dan terus ke Padang Luar untuk selanjutnya menuju Matur atau Puncak Lawang dan terus ke Maninjau. Perjalanan dari Padang ke Maninjau melewati Kelok 44 ini dapat ditempuh dalam waktu tiga setengah jam.



Post a Comment